Tampilkan postingan dengan label Jerusalem Trip. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jerusalem Trip. Tampilkan semua postingan

Rabu, 06 Juli 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag VII

Selesai turun dari Mt Olives, tujuan berikutnya menuju kaki bukit, adalah Gethsemane atau yang disebut juga Taman Getsemani, tempat dimana Yesus berdoa dan menangis bersimbah peluh berupa darah.

Kemungkinan demi kepentingan turisme, pohon-pohon zaitun tua yang ada ditaman tersebut dipertahankan. Oleh karena itu, pagar permanen menutupi sekeliling taman tersebut.

Background view: Taman Getsemani


Persis disebelah lokasi taman, megah berdiri Basilica of Agony atau disebut juga Church of All Nations atau Gereja Segala Bangsa.

Background: Entrance of Basilica of Agony


Alasan kenapa dinamakan begitu adalah karena gereja tersebut dibangun dengan donasi dari berbagai negara, antara lain Argentina, Brazil, Chile, Meksiko, Italia, Perancis, Spanyol, Inggris, Belgia, Kanada, Jerman Australia, Irlandia, Hungaria, Polandia, and of course, United States of America.

Left to Center Aisle


Tampak pada gambar langit-langit gereja pada gambar dibawah ini, informasi pembagian donasi tiap-tiap negara diukir disana, dengan cara menempelkan gambar bendera negara masing-masing di langit-langit, seperti tampak pada gambar (zoom, please ^_^) dimana sepertinya donasi dari Perancis bersebelahan dengan (tebakan saya) Chile.

Ceiling View of Basilica of Agony or also known as Church of All Nations
Berseberangan dengan bangunan ini, kami disuguhi pemandangan spektakuler, yaitu sebagian dari kompleks Al Aqsa dan Dome of the rock.

Seberang dari Basilica of Agony: Al Aqsa and Dome of the Rock site


Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Suasana di sekitar dan di dalam kompleks Getsemani dan Basilica of Agony bisa saja sangat penuh orang lalu lalang dari berbagai macam bangsa dan negara, dan didalam bangunan juga dipasang tanda 'silence' dari mulai depan entrance. Biarkan anak-anak duduk didalam stroller agar tetap aman dalam pengawasan. 

Sekedar share, kami memilih turun dari Mt Olives menuju Getsemani dengan tour bus sehingga terpisah dari rombongan dan harus menunggu dipintu masuk karena sampai lebih dulu. Karena menunggu terlalu lama, sambil melihat-lihat souvenir dipinggir jalan, Fidel kami biarkan turun dari stroller dan digandeng saja, dan hampir saja digendong pergi oleh orang tidak dikenal, yang kemudian saat ditegur mengaku hanya bercanda saja.  :(

Details: Saat sedang digandeng sambil melihat-lihat souvenirs dipinggir jalan yang sedang agak sepi, tiba-tiba saja seorang laki-laki asing berbadan besar menggendong paksa Fidel hingga terlepas dari gandengan kami, sambil tersenyum dan seakan-akan hendak membawa dia pergi, dimana selama sedetik itu saya percaya dia hendak membawa kabur Fidel, dan sudah siap berteriak, dia menurunkan Fidel dan berkata 'just kidding, you thought I was gonna take him away, didn't you?', and I was like: 'HELL, YEAH! (GET LOST!) 


(to be continued..)

Selasa, 08 Maret 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag VI

Hari pertama visit Holy Land, kami langsung mengunjungi Jericho, Dead Sea dan Wailing wall. Malam, sehabis dinner, kami check-in.

Hotel pertama kami, Jerusalem Gate Hotel, ditinggali selama dua malam.
Jerusalem Gate Hotel

Kesan pertama mengenai hotel tersebut tidak impressive buat saya, it's rather old.

Tripadvisor menempatkan rating kategori very good dan kategori poor dengan jumlah voters sama banyaknya. Banyak yang memuji kelebihannya yaitu a very good location, near autobus station, dan juga good food. But, to my experiences, the last thing we need, is a good location that near to public transportation. Why? Because we travel by a tight itinerary and a tour bus, dan mengenai tempat,  hotel hotel di asia jauh lebih mewah lebih modern, dan juga with the best food. Tentu saja, penilaian yang terakhir amat sangat subjektif, mengingat lidah saya tidak biasa makan salad dingin yang terdiri dari cheese cream dengan aneka kekentalan yang biasanya dimakan dengan ikan fillet beku :P

Untuk anak kecil, masalah sarapan bisa teratasi dengan telur. Tapi, jangan berharap bisa menikmati sosis sekaligus telur dan susu, disaat sarapan. Hotel-hotel sepertinya mengikuti dengan baik aturan makanan yang kosher menurut Yahudi. Hidangan yang kosher atau halal, salah satunya adalah tidak sekaligus mengkonsumsi daging dan susu. Dua jenis itu tidak boleh dikonsumsi berbarengan. Sehabis menikmati sarapan super hambar dan super asing dilidah, kami hop-on to the bus memulai perjalanan.

Matahari bersinar terik, tetapi udara masih sejuk dengan angin semilir. Itinerary pagi itu naik ke puncak bukit zaitun, menyaksikan yerusalem dari atas. Kami tidak turun dari bus, melainkan lanjut memasuki Chapel of ascension.

Entry to the Chapel of Ascention

 Di atas bukit inilah, dipercaya bahwa Yesus secara utuh/fisik naik ke surga. Sejarah panjang menyertai tempat suci ini. Dibangun, diserang, dan dibongkar beberapa kali. Tempat ini bahkan pernah digunakan sebagai masjid selama 300 tahun, sebelum akhirnya dibangun dinding berbentuk hexagonal yang mengelilingi chapel tersebut.

Kemi mengantri di depan pintu, menunggu giliran. Masuk kedalam, seperti mundur beberapa abad lamanya, berbagai macam perasaan campur aduk, utamanya haru.

Footsteps of Jesus | Chapel of Ascension

Berdoa ditempat itu tidak bisa berlama-lama, diluar antrian dari tourist group lainnya sudah menunggu, bergantian kami sujud lalu beriringan keluar.

Meninggalkan Chapel of Ascencion, kami berjalan kaki menuju Pater Noster Church atau Gereja Bapa Kami.

Gereja Bapa Kami adalah tempat dimana Yesus pertama kalinya mengajarkan doa Bapa Kami kepada murid-muridnya.

Background: Pater Noster Church | Gereja Bapa Kami
Di kompleks ini dikelilingi dinding bertuliskan doa Bapa Kami berbagai versi, diantaranya kami menemukan versi Indonesia, Jawa, Toraja dan Palembang, juga versi Hebrew.

Doa Bapa Kami versi Indonesia

Doa Bapa Kami versi Toraja dan Palembang
Doa Bapa Kami versi Hebrew

Sebelumnya kami memasuki gua dengan posisi menurun, menuju tempat yang diyakini sebagai the actual place dimana Yesus berkumpul dengan murid-muridnya dan mengajarkan doa Bapa Kami.

Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Saat turun dari bus untuk melihat Chapel of Ascension dan Pater Noster Church yang terletak di puncak bukit Zaitun, tidak perlu membawa stroller.
Tetapi, apabila kunjungan berikutnya langsung menuruni bukit, ada dua pilihan.

Pertama, ikut dengan bus yang akan turun tanpa penumpang sampai ke Getsemani, atau kedua, membawa stroller dan menuruni bukit zaitun sampai ke Getsemani.

Pilihan pertama, jauh lebih nyaman untuk anak, tetapi konsekuensinya kehilangan pemandangan kota dari atas bukit yang magnificent.

Pilihan kedua, mendapat pemandangan indah, tetapi medannya cukup sulit untuk dilalui stroller.

Jalan menurun dari Bukit Zaitun menuju Getsemani

The view from the top of Mt of olives


(to be continued..)



Minggu, 06 Maret 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag V

Lepas sore kami meninggalkan Dead Sea dan menuju Old City of Jerusalem.

Itinerary kami berubah menyesuaikan dengan kondisi internal Israel, sehingga, sore itu kami masuk ke area kota tua, menuju wailing wall atau kita disini menyebutnya tembok ratapan.

Awalnya saya berharap bisa melihat tembok ratapan disaat matahari terang benderang, tapi, hari sudah mulai gelap saat bus memasuki area yerusalem yang berbukit-bukit. Suasananya tak terkatakan, mulai dari rumah-rumah dari batu-batu besar sewarna pasir, berbentuk persegi panjang tanpa atap segitiga, kemudian kami menyaksikan makam-makam batu terhampar di kaki bukit.

Antrian bis mengular mendekati entry gate area dome of the rock dan al aqsa, dugaan saya, kami masuk melalui Dung gate, karena gate tersebut adalah yang paling dekat jaraknya diantara gate lainnya.

Dung Gate Area

Fidel sudah tertidur saat kami memasuki old city, dan karena area parkir bis cukup jauh, kami memutuskan untuk membawanya di stroller. Udara malam hari di Jerusalem sekitar bulan oktober, dinginnya kurang lebih seperti puncak di waktu malam.

Kami tidak melalui main entry Dung gate, melainkan pintu kecil yang hanya bisa dilalui pejalan kaki. Tepat disana, kami menyaksikan dari kejauhan, dan juga dari kegelapan, al aqsa yang berdekatan dengan islamic museum

View of Al Aqsa and Islamic Museum from Dung Gate


Selepas Dung gate dan sampai dipintu masuk area, entah mengapa pria dan wanita dibedakan jalur masuknya.

Pintu masuk menuju wailing wall

Fidel ikut masuk pintu laki-laki bersama ayahnya, dan kami ketemu lagi sudah didalam area wailing wall atau tembok ratapan.

Area tembok ratapan masih ramai, dipenuhi turis-turis lalulalang dan juga orang-orang yahudi yang memakai topi tinggi berwarna hitam yang khas, tampaknya mereka datang karena ingin berdoa.

Wailing Wall | Western Wall | Tembok Ratapan

Kunjungan ke daerah ini hanyalah sightseeing. Umat Katolik tidak datang ke area ini untuk berdoa, tetapi, saya niat untuk mendekati dinding tersebut dan menaruh beberapa gulung kertas doa titipan teman saya yang muslim. Bahkan teman saya ada yang meminta saya memotret area dekat al-aqsa karena penasaran.

Kunjungan saya ke wikipedia memberi saya info mengenai konflik yang menyertai daerah ini, antara yahudi dan moslem.

Yahudi memercayai bahwa potongan dinding yang diambil dari Bait Suci yang dibangun oleh Salomo ini tidak hancur pada serangan tentara Romawi, adalah karena Allah atau Sekhinah berdiam disitu. Itulah sebabnya orang Yahudi menangis ditembok tersebut menyesali dosa-dosa mereka, sambil berdoa dan kadang menaruh kertas berisi ujud atau permohonan pribadi mereka disela-sela tembok tersebut.

Sementara moslem memercayai bahwa dinding yang sama merupakan bagian dasar dari masjid al aqsa dan omar, dan diyakini sebagai gerbang tempat berangkatnya nabi mereka,  Muhammad SAW menuju surga dengan mengendarai mahluk cahaya dinamai atau disebut buraq.

Malam itu, saya maju ke area doa khusus perempuan. Ditengah-tengah ada sekat yang memisahkan area doa laki-laki dan perempuan.

Berjalan pelan-pelan mengagumi tembok besar dan megah tersebut, saya menyadari di sebelah kanan saya ada lemari berisi buku-buku doa orang yahudi, dimana mereka bisa meminjamnya. Lalu tersedia sederet kursi untuk duduk berdoa. Walaupun kebanyakan dari para yahudi tersebut memilih berdiri dekat tembok, meratap disitu.






Wailing wall yang tadinya sepanjang 485m, kini yang tertinggal hanya 60m. Orang-orang yang memenuhi bagian depan membuat saya sulit menerobos untuk menyelipkan kertas doa. Ternyata sampai didepanpun, saat itu kertas doa sudah begitu banyak bertebaran di lantai karena sudah tidak ada tempat lagi untuk menyelipkan kertas. Setelah selesai, tanpa berdoa saya berjalan mundur kira-kira 30-40 langkah, mengikuti orang-orang lain yang melakukan hal sama. Sepertinya kita tidak diperkenankan untuk memungungi tembok ratapan tersebut.




Kami banyak berfoto mengabadikan moment langka tersebut :)

Dan juga tak luput mengamati bahwa berseberangan dengan wailing wall, ternyata perumahan blok orang-orang yahudi atau jewish quarter. Kami tidak tahu dan tidak mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi daerah tersebut, hanya tahu bahwa the old city dibagi menjadi empat quarter, diantaranya adalah jewish quarter. Walaupun kami berkesempatan untuk mengeksplorasi moslem quarter, spesifiknya di lions' gate

Background: The Landscape of Jewish Quarter

Selesai dari wailing wall, beriringan kami menuju bus, dibawa untuk makan malam di restoran ala asia lalu pergi lagi untuk check-in hotel. Malam tersebut masih di area Jerusalem.

Cita rasa makanan ala asia di israel? Will update you in the next post ^^

Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Tembok ratapan adalah lokasi pertama yang kami hadapi dimana parkir untuk bus tidak dekat dengan lokasi. Jadi, pastikan pada tour guide anda mengenai area-area mana yang akan menyulitkan anak-anak atau manula yang karena suatu alasan terpaksa menunggu di dalam bus.

Again, bawalah stroller dan perlengkapan anak seperti jaket, baju ganti, minuman, kantong muntah, kemanapun, bahkan pada tujuan-tujuan yang sudah dipastikan cuma turun 'sebentar' dari bus.

(to be continued..)

Kamis, 13 Januari 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag IV


Sore hari, perjalanan kami arahnya menurun mendekati tepian laut yang dilatari deretan gunung-gunung, terus menuju Laut Mati atau Dead Sea.

Dead Sea atau Laut Mati membentang melalui Jordan dan Israel, walaupun dinamakan laut sebenarnya tempat itu lebih menyerupai danau luas berair asin. Merupakan tempat permukaan air laut mencapai titik terendahnya di seantero bumi, karena mencapai 422m dibawah rata-rata permukaan air laut.

Kami masuk Dead Sea melalui sisi utara Jericho, perkiraan saya masih di area milik Palestina. Ada beberapa entry point untuk Dead Sea, tetapi pada umumnya pemandangan yang didapat is about the same. Menuju bibir pantai, jalan menurun sekali, dan telah dibangun undakan-undakan rapi berjejer sehingga kami seperti berada disuatu auditorium alam yang indah sekali, seperti contoh gambar berikut:

Menuju Dead Sea atau Laut Mati
Dead Sea: Entry Point North Part


Sampai di bibir pantai, pemandangan yang lazim dilihat adalah begitu banyak orang yang melapisi kulitnya dengan lumpur sewarna tembaga bahkan cenderung hitam. Saya mendekat untuk merasakan pantai dan airnya. Ternyata pasir pantai serupa tanah lempung yang lengket dan luar biasa licin, dan air laut mati tersebut teksturnya kental dan berminyak seperti minyak goreng berwarna abu-abu hitam.

Hati-hati berjalan menjauhi pantai, karena ternyata banyak lubang-lubang kecil didalam air yang akan membuat kita terpeleset. Once kita terpeleset, akan sulit bagi kita untuk berdiri seperti biasa, karena tempat ini adalah salah satu hypersaline lake yang ada didunia, dengan tingkat keasinan air mencapai 8,6 kali lebih tinggi dari air di lautan, membuat buoyancy "digenapi" disini. Note: buoyancy bisa diperdalam infonya disini http://en.wikipedia.org/wiki/Buoyancy

Eyangnya Fidel terpeleset disini, dan butuh usaha keras untuk membuatnya mampu berdiri lagi pada kedua kakinya.


Sesampai nya di tepi laut, Fidel segera lari menerjang pantai dengan hasil jatuh seketika. Setelah terjatuh, dia meringis menahan sakit sampai sedikit gemetar, membuat kami bingung tentu saja, dan ternyata baru ketahuan dia punya luka lecet di sekitar kaki dan paha, yang segera perih luar biasa saat terkena air asin. Untung saja tidak jauh dari situ tersedia beberapa kran air tawar untuk orang membilas tubuh, karena sekali terkena air laut, kulit akan terasa licin. Segera Fidel mengantri untuk bilas.







Selain melumur diri dengan lapisan lumpur yang konon berkhasiat, banyak juga orang yang mencoba membotolkan lumpur tersebut, mungkin untuk kenang-kenangan dibawa pulang ke tanah air. Saya termasuk yang mencoba membawanya pulang terbungkus plastik.

Selesai membilas, kami menuju jalan menanjak dan setelah berganti pakaian, kami duduk menikmati manusia segala bangsa bertemu di melting pot tersebut, mencoba menyerap dan memahami suatu tempat yang berusia ribuan tahun dan ikut menjadi saksi perjalanan sejarah beberapa agama dunia.

Keluar dari Dead Sea


Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Pada saat packing, siapkan baju renang atau kaos+celana pendek juga handuk untuk orangtua dan anak dalam satu gulungan, ditaruh dalam kantong plastik. Siapkan topi renang kalau para Ibu tidak mau rambut basah. Taruh packingan baju ditempat paling atas, incase kejadiannya baru saja mendarat dan belum sempat mampir hotel sudah visit ke Dead Sea.

Hati-hati saat hendak menceburkan diri dan anak kedalam air. Ingatkan bahwa ini bukan pantai yang biasa, kalau perlu anak cukup bermain dipinggir pantai dan hanya terkena air sampai dengan lutut. Walaupun referensi berlaku sebaliknya khusus untuk orangtua. Sayang melewatkan kesempatan langka untuk menikmati danau dengan keunikan seperti ini, cobalah mengapung dekat tiang-tiang dermaga karena jelas memudahkan kita mengapung dengan berpegang pada tiang.

Bawalah plastik atau wadah untuk membawa pulang lumpur dead sea yang katanya begitu berkhasiat sehingga Cleopatra selalu berkenan untuk mandi disitu.

Jangan lupakan perlengkapan anak lainnya, misal minyak telon, minuman kotak dan air mineral.


(to be continued..)

Senin, 10 Januari 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag III

Sampai di Israel, daerah pertama yang kami kunjungi, Jericho, kota di Palestinian Territories, pertama untuk makan siang, kedua untuk mengunjungi tampilan gunung dimana Yesus mengalami pencobaan dan pohon ara dimana Zakeus memanjat.

Melewati perbatasan Israel menuju Palestina, kami tidak melalui banyak pemeriksaan, cukup melewati daerah perbatasan begitu saja. Informasi yang kami dapat, menyeberang dari Israel menuju Palestina adalah hal biasa dan mudah, tetapi tidak sebaliknya.

Dari perbatasan Israel menuju Jericho kami melewati banyak bangunan-bangunan berbentuk kotak-kotak dari batu-batu sewarna pasir yang ternyata merupakan hunian penduduk setempat. Jericho adalah kota tua yang lokasinya terletak paling rendah di bumi.

Jericho

Selanjutnya di Jericho, kami parkir untuk makan siang waktu setempat, atau jam makan sore jam 18.00 WIB. Pemilik resto meneriakkan "Selamat Datang Indonesia" yang khas pada rombongan kami, walaupun menu makanan buffet restoran tersebut tidak mencerminkan rasa masakan indonesia. Kami melahap nasi yang berminyak mirip2 nasi lemak dan sate domba yang ditusuk dengan potongan besi. Menu lainnya tidak disentuh karena tampilannya kurang mengundang selera. Turned out, sate domba nya enak sekali !, makanan paling enak yang kami temui selama di Timur Tengah.

Sate Domba di Jericho


Sate Domba di Jericho

Selesai makan seperti biasa, Fidel perlu menggunakan kamar mandi. Well, kamar mandinya kalau bisa dirate dari 1 sampai 10, hanya sanggup mengumpulkan angka 5,75 untuk kebersihan. Tapi mungkin perlu dimaklumi, tourist dari berbagai negara mampir disini, dengan membawa kebiasaan yang berbeda-beda.

Turun dari restoran di lantai 2, kami mampir ke toko souvenir di lantai 1, sebelumnya fidel berfoto bersama eyangnya di depan restoran dengan sate domba terenak tersebut, ini foto nya

Jericho Temptation Resto - Sate Dombanya Enak Bgt!


Disini, kami berbelanja tempelan kulkas, kaos, dan beberapa pernah pernik khas. Lalu perjalanan lanjut menuju Gunung Pencobaan, tempat Yesus berpuasa 40 hari lamanya dan dicobai Iblis disana. Gunung tersebut cukup kami lihat dari jauh, bagi yang mau mengalaminya langsung, disediakan cable car untuk naik ke atas, tetapi kami cukup berfoto dengan latar belakangnya saja. Cuaca mulai cukup terik saat kami turun dari bis untuk berfoto.

latar: gunung pencobaan







Gunung tempat Yesus dicobai oleh Iblis

Turun dari bis kami yang berwarna biru terang, kami sampai di tanah mendatar berpasir warna kuning, dengan latar gunung2 batu menjulang. Disitulah Yesus berpuasa 40 hari dan kemudian dicobai oleh Iblis. Selesai berfoto dan memandang merenungkan kejadian duaribu tahun silam, kami naik untuk menuju tujuan masih di daerah Jericho, yaitu pohon Ara tempat Zakeus memanjatnya untuk bertemu Yesus.


Pohon tersebut terletak di daerah yang cukup terlindung, saat kami datang disekelilingnya sedang dibangun pagar batu yang baru. Dan, di lokasi sekitar pohon itulah orang percaya terjadi peristiwa yang mengubah hidup Zakeus.



Dipercaya sebagai pohon dimana Zakeus naik untuk melihat Yesus

Pohon Ara Zakeus
Sebagian dari kami turun untuk berfoto, sekaligus untuk melihat dari dekat tampilan pohon tersebut.

Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Bila sampai disuatu restoran yang menyediakan menu nasi, ambillah sebagian untuk bekal, masukkan di kantong plastik atau bila membawa kotak nasi yang bersih taruhlah disitu. Kita tidak tahu kapan lagi bertemu nasi, dan seringkali anak-anak lapar pada saat yang tidak diduga. Protein dari susu kotak UHT yang dibawa dari Jakarta, dan karbohidrat dari nasi paling tidak dapat memberinya energi untuk tetap ceria selama perjalanan. Lebih bagus lagi kalau ada lauk yang bisa dibungkus.

Manfaatkanlah kamar mandi. Selalu ajak anak kita untuk ke kamar mandi apabila menemukan public places seperti restoran. Kebutuhan anak ke kamar mandi bisa kita mulai biasakan, sehingga pada hari ketiga atau keempat anak mulai terbiasa buang air setiap bertemu kamar mandi.


(to be continued..)




Minggu, 09 Januari 2011

Perjalanan ke Holy Land bersama anak Bag II

Perjalanan Dubai - Amman makan waktu 3 jam 55 menit. Jakarta GMT+7, Dubai GMT+4, Amman GMT+2, maka sesampai di Amman, kami mundur 5 jam dari waktu Jakarta. Siap-siap jetlag, terutama untuk Fidel, karena saat itu jam 14.20 Waktu Indonesia Barat, tetapi baru jam 9.20 di Amman,Jordan.

Turun dari Airport, kami duduk menunggu sebentar untuk koper-koper yang muncul dari ban berjalan. Queen Alia International Airport berbeda jauh dengan Dubai International Airport, sehingga memunculkan rasa 'terdampar' di gurun, karena pemandangan yang muncul di kaca jendela pesawat saat landing kebanyakan adalah bukit-bukit padang pasir. 

Keluar dari Bandara local tour guide sudah menunggu dengan bis besar, pemandangan yang disuguhkan tepat seperti yang biasa kami lihat di siaran televisi, sungguh khas timur tengah.


Amman-Jordan





Perjalanan menuju Holyland sekarang ditempuh dengan jalan darat. Indonesia tidak menjalin kerjasama dengan Israel, maka kami tidak bisa menggunakan Ben Gurion Airport dekat Tel Aviv, sehingga kami masuk Israel dari Jordan melalui perbatasan darat.

Setelah menunggu entry-check di Jordan Border Crossing selama kira-kira satu jam, dan mengalami semua bagasi kami masuk x-ray, kami menuju perbatasan Israel melalui King Hussein Bridge, atau lebih sering disebut Allenby Bridge oleh orang Israel, menuju West Bank atau Israel Border Crossing. Segera tour guide kami menginformasikan larangan untuk memotret sedikitpun, karena kami yang sedang melintas ini diawasi oleh Israel authorities. Pemandangan utama kami saat melintas adalah sungai Jordan yang telah mengering, beberapa rumah yang hancur lebur seperti terkena ledakan, dan beberapa papan plang bertuliskan military zone, cukup membuat patuh tourist yang bandel ingin memotret.

Sampai di Israel Border Crossing, kami semua harus turun dari bis, barang-barang sekali lagi masuk x-ray, dan kami mengantri satu persatu menuju loket pemeriksaan passport. Tentara-tentara Israel membawa senjata laras panjang mondar-mandir disekeliling kami. Selesai antrian di loket, kami menuju antrian detektor logam dan random check.

Dibagian ini, Fidel harus turun dari strollernya, stroller dilipat masuk x-ray, berjalan sendiri melewati detektor logam, baru orangtuanya boleh lewat. Salah satu peserta tour harus mengalami random check yaitu seluruh belongingsnya dibuka dan dideclare satupersatu. Selesai dari sini, percaya atau tidak, another passport check ! Baru kemudian kami bisa bernafas lega.

Di pintu keluar, another tour guide kami dan bis lainnya telah menunggu. Dia mengucapkan kata-kata, "Selamat datang di Israel!" dengan logat khas.

Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Jangan taruh stoller dibagasi bis bagian bawah, bawalah selalu dalam setiap kesempatan. Dan isilah satu tas besar dengan baju ganti dan jaket untuk anak, minyak telon, cemilan, kotak susu, kantong plastik dan baju ganti dewasa, untuk selalu dibawa saat turun dari bis. Karena kita tidak selalu bisa kembali ke bis sewaktu-waktu membutuhkan barang-barang tersebut.

Kami diberitahu bahwa dalam menu makanan akan selalu ada nasi, tetapi untuk selera makan anak, bawalah kecap dalam ukuran kecil untuk dibawa-bawa. Kami juga membawa bumbu ayam kremes untuk berjaga-jaga.


(to be continued..)

























Jumat, 10 Desember 2010

Perjalanan ke Holy Land bersama anak

Pada awal Oktober 2010 lalu kami berkesempatan mengunjungi tanah terjanjiNya di Israel.

Berikut kami akan berbagi cerita pengalaman mengajak anak kami, Fidel saat umurnya 4 tahun mengunjungi Tanah Suci Yerusalem.

Perjalanan dari Jakarta-Dubai

Pesawat berangkat dari Jakarta dinihari pukul 01.00 WIB, perjalanan menuju Dubai makan waktu kira-kira delapan jam. Cukup melelahkan untuk anak umur 4 tahun, tetapi puji Tuhan ternyata diberi jalan, Fidel tidak rewel.

Emirates Airlines, Jakarta-Dubai





Fidel menikmati nonton film-film Disney sebelum akhirnya tertidur. Kami dapat row urutan ke empatpuluhsekian dibagian belakang, cukup dekat kalau-kalau perlu ke toilet.

Sampai Dubai international airport pagi hari, jam 5.30 WIB atau jam 8.30 waktu setempat. Tour leader memberitahu gate keberangkatan kami berikutnya yang menuju Amman, Yordania, dan kami punya waktu kira-kira 30 menit untuk berkeliling.  Jeda waktu kami gunakan untuk ke toilet. Setelah itu kami memutuskan untuk check-in dan duduk menunggu. Dubai Airport terdiri dari ratusan gate, dan berhubung perjalanan masih panjang kami belum mau eksplorasi, jadi kami cukup duduk-duduk menunggu

@Dubai International Airport



 Fidel terkagum-kagum dengan megahnya bandara ini.

Catatan untuk orangtua yang membawa anak khususnya balita:

Siapkan beberapa kotak susu cair di dalam tas dan dibawa masuk cabin untuk diminum di pesawat, karena rasa makanan dan minuman yang disediakan cabin crew kemungkinan tidak cocok dengan lidah anak kita. Pengalaman kami dalam beberapa perjalanan, susu cair yang sealed didalam kotak diperbolehkan masuk cabin.

Selalu bawa plastik-plastik bening untuk membungkus atau menampung sesuatu, dan simpanlah ditempat yang gampang diambil. Pengalaman kami, plastik tersebut menampung banyak macam benda. Mulai dari kue, muntahan bahkan air (maaf) pipis. Dalam perjalanan pulang dari Amman ke Dubai, saat pesawat sudah mendarat, Fidel ingin pipis. Tentu saja tidak diperbolehkan lagi untuk ke toilet, maka jalan satu-satunya menampung cairan tersebut dalam kantong plastik.

Apabila memungkinkan, bawalah stroller model lipat sederhana yang ringan, dan mintalah pada cabin crew agar bisa disimpan di cabin. Pengalaman kami, membawa stroller dengan berat 3kg, boleh ditaruh di cabin, dan langsung bisa dipakai saat keluar dari pesawat. Tidak semua airport menyediakan stroller langsung didekat pintu keluar pesawat, atau kadang juga kehabisan. Sementara, apabila selesai menempuh perjalanan jauh, saat keluar dari pesawat dan anak harus digendong karena capek atau tertidur, stroller will save our back-pain.


(to be continued..)